Entertain your life with this...

Jumat, 13 Januari 2012

MENGAPA ORANG KAYA BERTAMBAH KAYA?

Pola pikir orang kaya dapat dipelajari dan diadopsi siapa pun, karenanya peluang menjadi kaya juga dapat diperoleh siapa pun juga.

1.Orang kaya percaya bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada seberapa besar dan serius usaha mereka.

Pola kerja orang kaya lebih agresif mengambil langkah-langkah progresif. Usahakan untuk selalu melangkah, walaupun langkah kecil tetapi jika Anda kerjakan secara konsisten itu akan memudahkan pekerjaan dan lebih memastikan keberhasilan Anda mencapai tujuan.


Sebaliknya, orang miskin hanya menerima apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, tanpa ada usaha maksimal untuk memperbaiki keadaan mereka. Kalaupun terpaksa bekerja keras itu hanyalah untuk memenuhi tagihan atau kebutuhan sehari-hari.

2.Orang kaya bersedia menanggung risiko, termasuk risiko menghadapi kegagalan.

Mereka tidak mudah terlena jika meraih kesuksesan, dan mereka juga selalu dapat melihat sisi positif dari setiap kegagalan. Mereka mempunyai motivasi, optimisme dan keberanian yang luar biasa dalam menciptakan dan membesarkan usaha. Orang kaya tidak pernah takut gagal.

Sedangkan orang miskin hanya menjadi pengamat atas perkembangan yang sedang terjadi, dan bukan menjadi bagian dari perubahan tersebut. Itu karena mereka tidak berani menanggung risiko dan cenderung mencari aman. Alhasil, mereka selalu kehilangan peluang potensial.

3.Orang kaya selalu berpikir dan bertindak positif, dalam situasi ekonomi yang baik maupun situasi ekonomi sedang krisis.

Orang kaya memiliki keyakinan tinggi bahwa mereka pasti berhasil menciptakan sumber penghasilan yang besar suatu hari nanti. Keyakinan itulah yang memungkinkan mereka selalu melihat peluang di mana-mana dan memotivasi mereka untuk aktif melakukan tindakan yang semakin menjadikan hidup mereka lebih makmur.

Sedangkan sistem keyakinan orang miskin sama sekali bertolak belakang, yaitu selalu berpikir negatif dan pesimis. Sistem kepercayaan orang miskin (yang negatif) itu juga terus tumbuh, sehingga mereka semakin enggan berusaha. Hasilnya mereka menjadi semakin miskin.

4.Orang kaya mampu bertindak cepat dalam mengambil keputusan, dan tidak mudah berubah pikiran.

Orang kaya lebih berkomitmen kepada visi, tujuan dan keputusan mereka. Mereka berusaha selalu sabar dan tabah menghadapi segala tantangan dalam berbisnis dan kehidupan pribadi. Mereka sadar bahwa perbedaan orang sukses dan gagal terletak pada ketabahan atau ketangguhan karakter.

Kebalikannya, orang miskin sulit sekali menetapkan keputusan, tetapi sangat cepat berubah pikiran. Sikap demikian dikarenakan mereka selalu pesimis dan was-was keputusannya keliru.

5.Orang kaya memiliki kemampuan menahan keinginan untuk bersenang-senang, sebelum tujuan mereka tercapai.

Orang kaya menunda kenikmatan hidup sampai kondisi mereka benar-benar mampu (secara keuangan). Mereka cenderung bergaya hidup sederhana dan tidak boros. Sesekali mereka memang membutuhkan kesenangan, tetapi itu berbiaya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan mereka.

Orang miskin tidak mampu mengerem kesenangan karena mereka tidak mampu membedakan mana keinginan dan kebutuhan. Mereka tidak mempunyai cukup tabungan dan hidup sibuk ‘gali lubang tutup lubang', karena uang mereka habis untuk mengejar kesenangan. Keadaan seperti itu semakin menyulitkan kehidupan mereka.

Lima perbedaan antara orang kaya dan orang miskin di atas menunjukkan bahwa dunia nyata kita hanyalah satu cerminan dari dunia batin. Berhati-hatilah dengan pola pikir, karena akan menjadi tindakan. Sedangkan tindakan akan menentukan nasib Anda. Bila Anda ingin kaya kuncinya adalah kemampuan mengendalikan pikiran menjadi lebih positif. Be positive, pasti kaya!
from: berani gagal
»»  READMORE...

PRINSIP-PRINSIP PENTING DARI SPONGEBOB

Ternyata tanpa di sadari Film spongebob banyak mengandung pesan penting tapi sayang mungkin banyak yang belum mengerti bahwa ada sesuatu makna dibalik film spongebob apalagi dari kata patrick terhadap sahabatnya spongebob.
 
1.Pengetahuan tidak dapat menggantikan persahabatan. Aku (Patrick) lebih memilih menjadi idiot daripada kehilanganmu (Spongebob)
 
2. Spongebob: Apa yg biasanya kau lakukan saat aku pergi? patrick : menunggumu kembali.

3. Saat sponge bob menjadi kaya dan melupakan patrick juga teman-teman spongebob yang kaya pergi dari spongebob, spongebob memohon kepada
patrick, dan patrick berkata: 'kalau uang bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku lebih memilih untuk tidak punya uang sama
sekali

4. Saat patrick di fitnah mencuri jaring ubur2 nya spongebob,patrick berkata: ' Tak apa kawan aku mungkin hanya bintang laut yang jelek lebih baik aku pergi ini, ambil saja barang2ku tapi aku tak pernah mengambil jaring mu kawan

5. Patrick berteriak : 'AKU JELEK DAN AKU BANGGA!!!

6. Kalau kamu memberitahukan rahasia kepada seseorang, maka itu namanya bkn rahasia lagi.

7. Saat spongebob mau masuk anggota jelly spotter.. terakhir patrick bilang: 'pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat..'

8. Waktu orang tua Patrick datang menjenguk anaknya. Tapi Patrick takut dikatain bodoh. Demi Patrick, SpongeBob bela-belain akting jadi orang bodoh biar ortu Patrick gak ngatain anaknya bodoh. Lalu Patrick bilang ke SpongeBob: 'TEMAN ADALAH KEKUATAN'

9. Waktu patrick dianggap ada keturunan raja terus mulai ngambil barang-barang milik orang lain, terus dia berkata: 'hidup itu memang tidak
adil, jadi biasakanlah dirimu'..

10. Waktu spongebob les nyetir buat dapetin sim..'seharusnya kau belajar berjalan dulu , baru lah kau bisa berlari..'

11. Waktu episode spongebob mencari spatula baru, trus dia dapat spatula yg emas,tapi si spatula emasnya tidak menuruti spongebob akhirnya dia balik pk spatula nya yg lama. trus si spongebob ngomong: 'Ternyata semua yg berkilau itu belum tentu emas'

Sumber: Anonymous
»»  READMORE...

Jumat, 02 Desember 2011

Ayah

Ada orang kaya raya yang punya segala-galanya, tapi hidupnya tidak bahagia. Seorang kawan mengajaknya mengunjungi sebuah panti asuhan agar hatinya bahagia dan tenteram. Namun sampai selesai acara di panti itu, hatinya masih gundah. Ia bergumam, "Kawan, engkau bohong, katanya kalau aku datang ke panti hatiku bisa bahagia......" Ia pun pulang, melangkah ke arah mobilnya dengan lesu. Baru saja kakinya melangkah keluar pintu panti asuhan, tiba-tiba seorang anak perempuan kecil menarik tangannya.

"Oom mau pulang ya ?"
"Iya," jawabnya sambil tersenyum.
"Oom, boleh gak Nanda minta sesuatu?" tanya anak kecil yang bernama Nanda.
"Boleh, apa?"
"Tapi Nanda takut gak boleh sama Oom!"

Orang kaya itu tersenyum. Ia orang kaya, apakah yang tidak bisa dibelinya, apalagi untuk anak yatim piatu yg manis ini, pastilah permintaannya akan dipenuhi.

"Memangnya Nanda mau minta apa?" tanya orang kaya itu sambil berjongkok dan memegang bahu Nanda.
"Om... Nanda cuma minta.. Nanda pengen manggil 'AYAH' ke Oom, boleh gak?"

Orang kaya itu tercengang. Tenggorokannya terasa tersumbat. Sebuah permintaan yang tidak pernah diduganya. Ternyata bukan minta boneka, bukan juga minta uang, hanya sebuah sebutan 'ayah'. Tanpa terasa hatinya bergetar.

"Boleh.. Nanda boleh panggil ayah ke Oom."
"Terima kasih..ayaah. Kapan, ayah datang lagi? Nanda boleh minta lagi ke ayah?" "Boleh, sayang, Nanda mau minta apa?"
"Nanda minta, kalo ayah datang kesini lagi, bawa fotonya ayah ya.. Nanda mau simpan di kamar Nanda. Kalo Nanda kangen sama ayah, Nanda bisa lihat foto ayah."

Orang kaya itu mengangguk. Dengan berlinang air mata orang kaya itu memeluk Nanda dan berkata, "Besok ayah kesini lagi. Ayah akan bawa foto ayah, dan akan sering ke sini menemui Nanda. Hati orang kaya itu sangat "bahagia".

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIANhttp://pentas-kesaksian.blogspot.com
»»  READMORE...

s.m.a.l.l can be B.I.G



Thomas Merton, seorang biarawan Amerika, dan juga penulis 50 buku dan 2000 puisi, berkata, "The biggest human temptation is too settle for too little.

Mungkin berbeda-beda interpretasi teman-teman saat membaca quote ini.
Ada yang bilang kalau artinya, manusia itu sudah nyaman dengan sedikit yang dimilikinya, dan kurang mau berjuang lebih lagi.
Tapi untuk saya pribadi kalimat ini bicara tentang manusia yang tidak bisa menerima 'sedikit' yang dimilikinya.
Bagi mereka hukum ini yang berlaku: Little means nothing.


(It s just a)  s.m.a.l.l  TALENT



Masih ingat tentang perumpamaan TALENTA kan?
Bagaimana effort si penerima 5 dan 2 talenta untuk memultiplikasi talentanya, dan berhasil menerima profit 5 dan 2 talenta.
Tapi sesungguhnya bagian yang  paling tersohor di perumpamaan ini adalah tentang si penerima 1 talenta yang tidak puas dan bersungut-sungut atas sangat sedikit talenta yang dimilikinya, dan memilih untuk mengubur talentanya dalam tanah. Menganggap remeh untuk 'sedikit' yang dipercayakan kepadanya.


YOU'RE WASTING  YOUR  ENERGY by (multiplying)  DIGGING



Oooh..... kisah ini tidak terjadi di kitab Injil saja my friends, masih didaur ulang dan masih fresh hingga sekarang di abad 21. Buktinya?
Saya sangat sering melihat orang-orang di sekeliling saya yang kasat mata jelas sebagai pihak penerima 1 talenta, yang ogah-ogahan melipatgandakan talentanya (hmmmh... I remember I was member of this club).
Atau mungkin sempat berusaha tetapi kandas di tengah jalan karena tantangan berat yang dihadapi.
Ujung-ujungnya....yah... tidak berbuat apa-apa lagi, dan berandai-andai, "kalau saja aku punya talenta yang lebih besar, aku pasti akan bisa dapat profit juga seperti yang lain....."

Friends, pengalaman saya mengajarkan, little doesn't mean nothing, dan banyak true story disekeliling saya yang mengajarkan small can be BIG, makanya teman-teman harus meluangkan waktu membaca kisah
di bawah ini.



m.i.n.o.r  can be  M.A.J.O.R  (part 1)



Apakah orang buta bisa mendaki Mount Everest ?
Mungkin dengan cepat kita akan berkata, "mana mungkin".
Friends, seumur-umur ... saya hanya pernah mendaki gunung Gede dan gunung Cikurai. Itu aja udah ngos-ngosan setengah mati dan di tengah jalan berulang kali mau menyerah. Gimana kalau mata nggak bisa melihat dan yang didaki Mt. Everest gunung tertinggi di dunia ?
Tapi ternyata jawaban pertanyaan di atas:  'BISA !!!"

Karena Erik Weihenmayer, seorang Amerika menjadi  'the first and the only blind man' yang menorehkan namanya sebagai penjejak kaki di puncak tertinggi tersebut pada tanggal 25 Mei 2001.
Dari lebih 3000 orang penakluk Everest, seorang laki-laki -yang sejak lahir memiliki masalah dengan matanya dan buta total di usia 13 tahun-  menjadi salah seorang diantaranya.


CLIMB FARTHER THAN THE EYE CAN SEE



Puncak kenikmatan seorang pendaki gunung adalah ketika mencapai puncak menyaksikan pemandangan yang luar biasa indah yang hanya bisa dilihat langsung oleh seorang penakluk. Dan Erik tidak bisa menikmatinya sama sekali. Tapi ia tetap punya keinginan yang kuat untuk bisa sampai di sana.



Perjalanannya juga bukan perjalanan yang mudah. Semuanya serba extreem.
Medan yang extreem berat, udara yang extreem dingin, angin yang extreem kencang dan oksigen yang extreem tipis adalah tantangan yang sama dihadapi oleh semua pendaki yang lain. Bahkan tercatat lebih 200 orang meninggal saat pendakian di Mt Everest.
Belum lagi kondisi mata Erik yang buta membuat hambatan tersebut menjadi extreem pangkat 10.



Untuk mengatasi hambatan penglihatan, Erik biasanya mendaki dengan seorang partner pendaki yang berjalan tepat di depannya dan dilengkapi dengan bell di ranselnya.




Sehingga dengan mudah Erik dapat mengetahui arah perjalanan melalui bell yang berdenting dan mengikuti langkah kaki sang partner.
Pada saat harus melangkahi jurang sempit tetapi sangat dalam, maka partner dan sherpa yang mendampinginya akan menjelaskan dengan detail medan yang akan dilalui supaya Erik tidak mengalami kecelakaan dan terperosok ke dalamnya.
Wow.....nggak sanggup saya membayangkannya....
Benar-benar a tough journey.

Sejak penaklukan Mt Everest, kepopuleran namanya tidak perlu diragukan lagi. Menjadi cover majalah TIME, bahkan diterima menjadi tamu Gedung Putih oleh Presiden George W. Bush yang menjabat pada waktu itu.




Puas dengan semua yang dialaminya?
Tidak. He keeps climbing and climbing. Erik bahkan sudah menaklukkan
The Seven Summits, 7 puncak tertinggi yang ada di dunia, pada bulan September 2002.

Ketika di Tibet, ia menemukan kenyataan bahwa orang-orang buta diperlakukan dengan buruk di sana karena anggapan mereka dikuasai oleh kuasa kegelapan atau pernah berbuat jahat di kehidupan sebelumnya.
Sehingga selama 2 tahun ia bekerja keras mencari sponsor untuk CLIMBING BLIND EXPEDITION, yaitu membawa anak-anak Tibet yang buta untuk mengalami pengalaman mendaki seperti dirinya.
Ia sukses membawa 6 anak remaja Tibet yang buta mendaki hingga ketinggian 6.400 m (bandingkan dengan Mt Everest yang setinggi 8.848 m, wow... berhasil sampai 70% ketinggian puncak tertinggi di dunia loh).


Mau tahu opini Erik tentang kehidupan?
"You can look at life as a nightmare or as an adventure.  
I chose adventure."

Friends, saya semakin diyakinkan kalau semua orang diciptakan dengan kemampuan untuk membuat suatu pencapaian terhadap tujuan hidupnya.
Still got the feeling "I have too little" or "I am a nobody" ?
Masih ada satu kisah lagi.


m.i.n.o.r  can be  M.A.J.O.R  (part 2)



Kalau kisah Erik Weihenmayer terjadi sudah 8 tahun yang lalu, maka another BIG STORY  kali ini baru saja terjadi. Masih anyar. Masih hangat.

Beberapa waktu sebelumnya  Liu Wei  hanyalah seorang pemuda China biasa, berusia 23 tahun, yang berdomisili di Beijing. Mungkin banyak orang disekelilingnya yang berpikir he is really really a nobody.
Siapakah Liu Wei ?

Terlahir normal, tetapi pada usia 10 tahun mengalami kejadian tragis yang mengubah jalan hidupnya.
Waktu itu Liu Wei sedang asyik bermain petak umpet dengan  teman sekelasnya, ia tidak sengaja menyentuh kabel listrik yang segera menyengat tangannya dan yang membuat hidupnya selama 45 hari berada dalam keadaan kondisi yang membahayakan.
Ketika sadar, Liu Wei melihat bahwa dia tidak lagi memiliki kedua lengannya.
Liu Wei kecil menangisi hidupnya.

Bersyukur ia memiliki papa mama yang menyemangati Liu Wei untuk menjalani hidup sebagaimana orang yang normal. Belajar mengerjakan segala sesuatu serba sendiri, tidak boleh menggantungkan hidupnya pada orang lain, termasuk orang tuanya.
"Kamu harus belajar makan sendiri, kalau nggak, saat papa mama sudah tua siapa yang akan mengurus dirimu?"
Itulah pesan yang diajarkan orangtuanya.

Sang mama juga selalu menyemangati Liu Wei, kalau anaknya ini tidak berbeda dengan anak normal yang memiliki 2 lengan.
Liu Wei segera beradaptasi dengan keadaan tubuhnya, sehingga sekarang ia dapat berkata,  
"DIbandingkan orang lain, saya tidak berbeda. 
Kalau kamu mengerjakan segala sesuatu dengan tanganmu, maka aku  menggunakan kakiku."



"THERE'S NO RULE THAT SAYS PIANO CAN BE ONLY PLAYED BY HANDS" (Liu Wei)



From nobody to somebody.
Itulah yang terjadi saat Liu Wei mengikuti China's Got Talents pada bulan Agustus 2010 lalu.
Ditayangkan dan disaksikan hampir 1.3 Milyar penduduk, yang tidak sanggup menahan airmata menyaksikan Liu Wei memainkan lagu “Mariage D’amour” pada grand piano. Sangat indah. Ini bukan permainan piano biasa, karena ia memainkan piano tsb dengan jemari kakinya.

Kursi piano diatur sedemikian rupa dan ada bench kecil di depan piano sehingga Liu Wei bisa dengan leluasa menaruh kakinya di atas piano. Mungkin pertamanya semua orang meragukan apa mungkin alunan nada indah akan dihasilkan oleh jari jemari kaki?
Friends, piano itu sesungguhnya didesain untuk jari tangan, yang jelas-jelas bentuknya jauh lebih kecil dan panjang daripada jari kaki. Jari yang panjang membuat jangkauan tangan menjadi luas, dan bentuknya yang lebih mungil dari jari kaki membuat gerakannya lebih leluasa.
Lah....kalau dengan kaki ? Saya belum kebayang, apalagi jempol kaki yang bentuknya besar. Wah....wah....wah......
Dan ternyata, Liu Wei memainkan lagu  “Mariage D’amour”dengan begitu undah.
Flawless. Nggak cukup 2 jempol tangan diacungkan kepadanya.
Bahkan jelas terlihat di televisi, orang-orang yang meneteskan air mata melihat perjuangannya.
Kejadian Susan Boyle terulang lagi.

Saya sangat tahu sekali kalau apa yang dijalani Liu Wei sama sekali tidak populer dan tidak mudah.
Saya sejak umur 10 tahun sudah belajar piano, dengan tangan.
Dan pertama kali ketemu, guru saya sudah nakut-nakutin dengan statement "dua alat musik yang paling susah dikuasai adalah biola dan piano".
Dan saya juga dengar, mulai belajar piano di atas usia 12 tahun adalah berat, tidak semudah anak-anak yang memulai dini di usia 6 tahun.
Itu yang saya tahu.
Paling nggak ini beberapa hambatan Liu Wei yang saya bisa deteksi:


Liu Wei baru belajar piano di usia 19 tahun (hambatan pertama).
Liu Wei harus belajar menggunakan kakinya (hambatan kedua)
Liu Wei harus bertarung dengan keinginan berhenti di tengah jalan (hambatan ketiga).
(lha....wong saya yang belajar pake tangan, plus start sejak usia 10 tahun saja berulang kali berpikir untuk berhenti, karena sulit dan bosan.....)
Dan pasti Liu Wei memiliki lebih banyak lagi hambatan yang tidak dialami oleh orang-orang lain.

STOP COMPLAINING. LIVE YOUR LIFE SPLENDIDLY.



Seperti Erik Weihenmayer, Liu Wei punya pandangan terhadap kehidupan.
"I think that in my life there are only 2 choices: 
either quickly die, or live life splendidly.
There's no rule that says piano can be only played by hands."

Hanya ada 2 pilihan. Mau hidup biasa-biasa, atau luar biasa?
Kalimat terakhir yang dahsyat, .... tidak ada ketentuan bahwa piano hanya bisa dimainkan dengan tangan.

Believe it or not. Kalimat di atas dengan segera akan sering dikutip oleh banyak motivator, blogger, ataupun netter. Kalimat yang sangat inspiratif. Membuat orang lain belajar melihat dan bertindak melebihi segala keterbatasan yang menghalangi.

Apakah teman-teman pemilik 1 talenta?
Keputusan ada di tangan masing-masing.
Mau pilih percaya 'little means nothing'  atau  
'small can be BIG"    ?
Saya tentu saja pilih yang terakhir.



All blessings,

 Julita Manik
»»  READMORE...

Jumat, 25 November 2011

Ubah Tindakan dan Raih Keajaiban

Seorang pria sedang menunggu pesawat yang akan dinaikinya di ruang tunggu bandara. Selang 30 menit kemudian, sebuah suara yang keluar dari pengeras memberitahu agar para penumpang dengan nomor penerbangan sekian tujuan kota X segera menaiki pesawat.

Pria tersebut kemudian masuk ke dalam pesawat dan mencari tempat duduk sesuai tiket. Kebetulan ia duduk di samping emergency exit atau pintu keluar darurat. Tidak lama kemudian setelah semua penumpang berada di tempat duduk, datanglah seorang pramugari yang mendekati pria tersebut.

Pramugari cantik itu berkata padanya, "Maaf Pak. Kebetulan Bapak duduk di samping pintu darurat. Untuk itu kami mohon kerja samanya. Jika terjadi sesuatu dan terpaksa harus mendarat darurat, silakan Bapak buka pintu darurat ini agar penumpang bisa keluar darurat. Untuk lebih jelasnya, silakan baca petunjuknya di buku instruksi keselamatan."

Pria itupun menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang disampaikan pramugari itu. Kemudian ia beserta pramugari lainnya segera memberikan instruksi keselamatan kepada para penumpang di saat pesawat mulai berjalan perlahan menuju landasan pacu.

Pesawat berhasil lepas landas dan mengudara meninggalkan bandara. Segalanya berjalan dengan normal dan tidak ada masalah sama sekali. Tapi di tengah perjalanan, mesin pesawat tiba-tiba bermasalah sehingga harus dilakukan pendaratan darurat. Para penumpang langsung panik. Mereka diminta untuk memakai pelampung keselamatan dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

Pria tadi yang duduk di samping pintu darurat segera teringat dengan perkataan pramugari tadi agar segera membuka pintu darurat jika terjadi masalah. Maka ia segera membuka pintu darurat itu. Ia berusaha membuka, tapi pintunya tidak bisa terbuka. Di saat pesawat semakin mendekati daratan, pria itu semakin panik dan mendorong dengan sekuat tenaga, meninju, bahkan menendang pintu tersebut. Tapi, pintu tetap tidak mau terbuka.

Ia mulai pasrah. Ia berpikir hidupnya akan segera berakhir. Pintu darurat tidak bisa dibuka dan ia tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Tapi untunglah, ternyata pesawat dapat mendarat darurat dengan selamat meskipun sedikit hancur. Semua penumpang selamat dan tidak ada yang luka parah meskipun banyak dari mereka yang begitu shock.

Pintu pesawat akhirnya terbuka dan para penumpang langsung segera berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Pria itu pun ikut keluar dengan langkah cepat. Untunglah tidak terjadi sesuatu yang mengerikan. Semua bernapas lega karena masa kritis sudah lewat.

Pria itu kemudian teringat dengan pramugari yang tadi memberikan instruksi padanya. Ia pun segera mencari dan akhirnya berhasil menemuinya. Ia berkata dengan sedikit marah, "Kamu menyuruhku untuk membuka pintu darurat, tapi pintunya sama sekali tidak bisa dibuka."

Lalu pramugari itu membalas, "Pintunya berfungsi dan tidak rusak."

Pria tersebut membalas dengan kesal, Saya mendorong dan menendang pintu sampai kaki tanganku kesakitan, tapi tetap tidak terbuka."

Mendengar penjelasan pria itu, si pramugari menghela napas dan menggelengkan kepala sambil berkata, "Pintunya harus ditarik, bukan didorong, baru bisa terbuka. Apakah Bapak tadi membaca buku instruksinya?"

Pria itu wajahnya merah karena malu. Katanya, "Saya tidak membacanya."

Pesan kepada pembaca:

Cerita di atas mungkin sering terjadi pada sebagian besar orang. Mereka melakukan sesuatu, tapi ketika ingin mendapatkan hasil yang berbeda, mereka malah terus melakukan hal yang sama berulang kali. Itulah yang disebut "gila" oleh Albert Einstein, yang menunjuk pada orang yang terus melakukan tindakan yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda.

Jika Anda menanam bibit jeruk, maka Anda akan memanen buah jeruk. Jika Anda tidak ingin buah jeruk, melainkan buah apel, maka Anda harus menanam bibit apel. Itulah analogi yang sederhana. Tapi banyak orang terjebak dengan menanam bibit jeruk sambil berharap memanen buah apel.

Seringkali kesuksesan tidak dapat diraih karena tidak peka terhadap hasil yang didapatkan dan terus melakukan tindakan yang sama. Padahal salah satu rumus sukses adalah fleksibel dengan tindakan yang kita ambil. Jika tindakan yang kita ambil terus membawa hasil yang mengecewakan, itu artinya kita harus mengubah dan mengambil tindakan yang berbeda. Jika gagal lagi, kita harus bertindak lagi dengan cara yang berbeda sampai kita berhasil. Itulah yang dinamakan fleksibel.

Banyak orang yang tidak fleksibel. Akibatnya, mereka terus melakukan tindakan yang salah. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa tindakan tersebut membawa mereka ke arah yang salah. Tidak heran banyak yang tidak mengerti mengapa mereka masih belum berhasil padahal sudah bertindak dan pantang menyerah.

Seringkali kesuksesan begitu dekat dengan kita. Jaraknya hanya terpaut tingkat fleksibilitas tindakan kita. Jika tidak fleksibel dan terus melakukan tindakan sama yang salah, maka jangan harap kesuksesan akan datang meskipun kesuksesan sudah begitu dekat. Apakah bisa melihat matahari terbit, jika Anda selalu berjalan ke arah barat?

Suhardi (Penulis buku "Patterns of Success")
http://www.facebook.com/suhardi.inspirator.motivator
»»  READMORE...

Kejutkan Pelanggan

Kejutan kadang diperlukan untuk membuat kesan pada pelanggan. Dengan sedikit layanan tambahan berupa kejutan-kejutan, sebuah usaha bisa jadi akan selalu berada di hati pelanggan. Inilah nilai tambah yang seharusnya selalu diberikan dalam bentuk layanan kepada pelanggan.

Kejutan seperti apa yang bisa kita coba berikan?

Berikan bonus yang tak dikira-kira
Intinya, jangan sepelekan bonus, bahkan meski nilainya kecil sekali pun. Sebab, banyak orang mengapresiasi dan merasa senang mendapat barang "gratisan". Maka,
jangan heran jika saat ini, banyak perusahaan berlomba memberikan bonus-yang bahkan diiklankan besar-besaran-untuk menarik konsumen.
 
Ucapkan salam yang khas
Ucapan selamat datang dengan menyebut nama toko, kadang itu sudah bisa menjadi "ajang" untuk lebih mengenalkan produk ke alam bawah sadar pembeli.

Tunjukkan keramahan dengan ketulusan
Ini sebenarnya adalah sesuatu yang lumrah dan memang seharusnya dilakukan sebagai bagian dari layanan pelanggan. Tapi, cobalah misalnya amati antrean di bank. Kadang, hanya dengan memberikan "kejutan" kecil seperti permen, minuman kemasan, atau balon bagi yang membawa anak kecil, sudah membuat konsumen merasa diistimewakan.

Berikan kejutan pada yang ulang tahun
Jika menyusuri jalur mudik di Utara atau Selatan Jawa, ada restoran yang cukup unik. Saat hendak memesan makanan, biasanya sang pelayan menanyakan tanggal lahir pembeli. Ternyata, jika kebetulan ada yang sedang ulang tahun, maka restoran itu akan memberikan "bonus" pesta kecil bagi yang bersangkutan. Tentu, kejutan itu akan membuat sang konsumen senang dan hampir bisa dipastikan, ia akan bertutur ke orang lain tentang kejutan tersebut.

Berikan diskon sesuai dengan hal yang tak dikira
Pernah melihat iklan di media yang menyebutkan sebuah restoran memberikan diskon sesuai umur? Bayangkan, jika yang berkunjung berusia 90 tahun (meski sangat jarang) diskonnya pasti superbesar. Kejutan semacam ini akan memancing orang untuk datang.

Penulis : Tim AndrieWongso
»»  READMORE...

Ubahlah Sudut Pandang

Alkisah, suatu hari, seorang ayah muda membawa anaknya yang baru berusia sekitar 4 tahun untuk bermain di taman hiburan. Mereka sedang menantikan parade menyambut ulang tahun taman hiburan tersebut yang akan digelar mulai petang hari. Setengah jam sebelum atraksi dimulai, si ayah mengajak anaknya menuju tempat menunggu yang dianggap paling strategis untuk menonton parade.
Tak lama kemudian, orang yang berkumpul pun semakin banyak saat parade hendak dimulai. Si anak bergerak ke sana-sini dengan tidak sabar.
"Papa, kapan mulai paradenya?" beberapa kali suara kecilnya nyaring bertanya.
"Sebentar Nak, tuh...sebentar lagi mulai. Sabar ya," kata si ayah menenangkan anaknya.
Tidak lama, terdengar suara sirine tanda dimulainya iring-iringan parade. Drumband pun terdengar menyemarakkan suasana diikuti dengan barisan artis dengan gaun yang berwarna-warni, kereta bunga, sepeda hias; semua indah dan seru. Tetapi si anak kecil yang tadinya berada di baris depan, terdesak ke tengah dan berakhir di pinggang gendongan ayahnya pun mulai menangis.
Si ayah dengan nada tidak sabar berkata, "Ssttt. Diamlah sayang. Parade sudah dimulai, kenapa kamu menangis? Lihat tuh si komodo lewat. Eeehhh, kalau kamu nangis begini, lain kali papa enggak mau ngajak nonton parade lagi lho."
Tetapi si anak tidak menjawab malahan suara tangisnya semakin keras. Akhirnya ayahnya melepaskan gendongannya dan berjongkok untuk melepas kejengkelannya. Tiba-tiba si ayah menyadari, yang dilihat anaknya adalah kerumunan orang, panas dan kepengapan udara. Walaupun sudah digendong di pinggangnya, tetapi tetap saja kerumunan orang membuat anaknya pengap dan tidak bisa melihat parade dengan jelas. Si ayah pun segera mengangkat anaknya dan menaruh di bahunya. Kebebasan dari sesak napas dan melihat parade yang indah, isak kecilnya tidak lama berubah dengan senyum dan keceriaan.
Akhirnya mereka berdua bersenang-senang melihat seluruh atraksi dan pertunjukan kembang api hingga di penghujung acara. Waktu tidur pun terlewatkan karena keasyikan menonton keramaian.
Di perjalanan pulang, si kecil tertidur pulas di pangkuan ayahnya. Si ayah pun sibuk membelai sayang putra tunggalnya, tersenyum puas karena kualitas waktu yang bisa disisihkan untuk kebersamaan mereka dan kemampuannya memperbaiki kesalahan, yang mampu mengubah tangis si kecil dengan tawa ceria. Semoga kenangan manis ini akan selalu mereka bawa di perjalanan kehidupan nantinya.
 
Sama dengan cerita anak kecil yang digendong, kalau tidak diangkat ke atas maka penglihatannya terganggu dan tidak bisa menikmati parade dengan puas.
Dalam kehidupan kita juga sama, kalau pandangan hidup kita sempit, kerdil, pendek maka apa yang kita peroleh juga sama, tidak akan memuaskan.

Untuk menikmati kehidupan ini dengan maksimal dan berarti, kita perlu melatih dan memiliki pandangan hidup yang besar, tinggi, luas sehingga kita mampu senantiasa menguasai masalah dan problem yang muncul. Dan tentu, mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan, susah menjadi senang, dan meraih prestasi yang lebih baik dan lebih luar biasa lagi.

Salam sukses luar biasa!!

Penulis: Andrie Wongso
»»  READMORE...

Beban Berat Menuju Puncak Sukses

 
Suatu ketika, seorang pemuda berpetualang ke sebuah tempat untuk mendaki gunung dan menuju ke puncak. Pria ini kemudian berjalan menyusuri jalan setapak menuju lembah gunung untuk memulai pendakian...

Di tengah perjalanan, ia melihat banyak sekali sampah berserakan di sepanjang jalan. Sampah-sampah itu mungkin berasal dari pengunjung yang membuangnya. Sampah tersebut membuat sepanjang jalan menjadi kotor dan tidak nyaman dipandang mata.


Begitu pula dengan pemuda tersebut. Ia sungguh tidak tahan melihat sampah yang berserakan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Karena itulah ia memungut sampah itu dan menaruhnya ke dalam kantong plastik. Lalu ia memasukkannya ke dalam tas ransel yang dibawanya. Semakin jauh ia berjalan, semakin banyak pula sampah yang dipungutnya. Tas ranselnya semakin lama semakin berat. Sampai-sampai ia terpaksa menenteng sampah tersebut di tangannya karena tas ranselnya sudah tidak muat lagi.

Tas ranselnya yang semakin berat membuat perjalanannya terhambat. Jalannya semakin melambat, bahkan terlihat kelelahan. Apalagi jalannya semakin menanjak ke atas, ia terlihat makin kesulitan dan terengah-engah.

Kemudian ia bertemu dengan seorang pendaki yang baru saja turun. Pendaki itu merasa aneh dan bertanya pada pemuda itu, "Boleh tahu apa yang sedang kamu bawa? Mengapa bawaanmu banyak sekali?"

Pemuda itu menjawab sambil mengatur napas, "Oh, ini sampah yang kupungut di jalan. Orang-orang sungguh tidak bertanggungjawab membuangnya sembarangan. Aku tidak tahan melihatnya, jadi kuambil saja dan akan kubuang setelah turun nanti."

Pendaki itu tersenyum geli mendengar penjelasan pemuda tersebut. Ia berkata, "Aku kagum dengan tindakanmu. Tapi tahukah kamu sampah yang kamu bawa itu telah memberatkan perjalananmu ke atas sana?"

Pemuda itu sedikit tersadar. Pendaki itu melanjutkan, "Semakin berat bawaanmu, semakin sulit kamu mencapai puncak. Itu semua menguras tenaga dan staminamu. Itu terlihat dari napasmu yang terengah-enagh. Lagipula untuk apa membawa sampah-sampah seperti itu ke atas puncak. Bukankah lebih baik Anda baru memungutnya setelah turun nanti? Bawalah barang seperlunya saja. Semakin ringan diri Anda, semakin mudah mencapai puncak." Lalu pendaki itu pun turun meninggalkannya.

Pesan kepada pembaca:

Dalam perjuangan kita mencapai kesuksesan, seringkali muncul suara-suara yang tidak mengenakkan. Suara-suara itu muncul dalam bentuk ejekan, hinaan, cemoohan, kritikan negatif dan sebagainya. Sebagian orang menerima suara-suara negatif itu dan memasukkannya ke dalam hati. Mereka terus teringat dengan suara-suara negatif sepanjang hari tanpa pernah bisa melupakannya. Sebagian lainnya tidak peduli, cuek dan terus melangkah jauh. Mereka tidak memasukkannya dalam hati, bahkan mereka tidak mempermasalahkannya sedetik pun.

Jika kita terus membawa suara-suara negatif tersebut, langkah kita menuju kesuksesan akan terasa berat. Suara-suara negatif itu bagaikan racun yang bisa melumpuhkan kita sampai tidak bisa berjalan lagi (menyerah). Ini sama seperti pemuda dalam cerita di atas yang membawa sampah tidak berguna yang hanya memberatkan pendakiannya ke puncak gunung.

Jika Anda ingin melangkah dengan ringan menuju kesuksesan, Anda harus bisa menutup telinga Anda dari suara-suara seperti itu dan terus melangkah maju. Suara-suara seperti itu adalah 'sampah' yang hanya mengganggu perjalanan Anda. Anda harus bisa membuang sampah seperti itu, yang hanya akan merepotkan Anda nantinya.

Sampah-sampah negatif seperti itu akan selalu berserakan di sepanjang perjalanan hidup ini. Kita tidak akan bisa menghindarinya. Suara-suara yang positif dan negatif akan silih berganti muncul dalam hidup kita. Tapi keputusan untuk memilih ada di tangan kita. kita bisa memilih untuk membuang suara(sampah) negatif atau memilih untuk membawanya bersama kita.

Maka, bawalah yang berguna dan masukkan ke dalam 'tas ransel' Anda suara-suara yang positif. Sebelumnya, keluarkan semua suara-suara negatif dan buanglah. Dengan begitu, langkah Anda akan lebih ringan dalam mencapai puncak kesuksesan.


From: SUHARDI (penulis buku motivasi "PATTERNS OF SUCCESS")
»»  READMORE...

Sabtu, 29 Oktober 2011

Wanita Pembaca Naskah Sumpah Pemuda Tolak Dibebaskan

Usai membacakan naskah Sumpah Pemuda, Sofie Kornelia Pandean ditangkap Belanda. Dia dijebloskan ke sel. Ketika akan dibebaskan, dia menolak.
Saat itu, paman SK Pandean yang merupakan jaksa, berusaha membebaskan perempuan kelahiran Paniki Bawah 28 Agustus 1911 tersebut.
"Tapi Ibu saya tak mau keluar. Ia bilang, sahabatnya juga harus dibebaskan. Setelah semua sahabatnya dibebaskan, barulah ibu saya ikut keluar dari tahanan itu," ujarnya.
Setelah kejadian tersebut, Menurut Meity, almarhumah tak tinggal diam. Pada umur 21, tepatnya sekitar tahun 1932, SK Pandean berangkat menuju ke tanah Jawa Tengah.
Di sana wanita tersebut masuk dalam Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dan tinggal dengan Mandagi yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Pengadilan Semarang.
"Di sana ia banyak membantu pergerakan perjuangan di bawah tangan, dan masuk dalam perjuangan bambu runcing dan juga di PMI," ucap Meity.
Tahun 1935, setelah pemberontakan Permesta,  SK Pandean pulang ke Manado bersama suaminya Frans Rudolf Oey, yang merupakan keturunan Tionghoa. Di Manado, ia dipercaya sebagai penasihat para Gubernur Sulut.
Tepatnya tanggal  6 Januari 1997, wanita yang telah berjasa tersebut menghembsukan napas terakhirnya di usia 85 tahun. SK Pandean dimakamkan di samping rumahnya di Jalan AA Maramis Nomor 179. Menurut Meity, ibunya memang ingin dimakamkan di samping rumah.
Semasa hidup, SK Pandean pernah menjabat Letnan BKR Kompi V, Batalyon 15 Resimen I, Magelang, Jateng. Kemudian Pimpinan Wanita KRIS, ditugaskan untuk menjenguk Presiden RI, Ir Soekarno dan HA Salim ketika dibuang ke Bangka tahun 1949. Tahun 1958, ia dianuhgerahi Satya Lencana Aksi Militer kedua oleh Menteri Pertahanan Juanda.
 "Dan tahun 1959 dianugerahi Tanda Jasa Pahlawan (Gerilya) oleh Presiden Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI, Soekarno. Selanjutnya pada 1966, dianugerahi Bintang Gerilya oleh Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto pada 29 Agustus 1966," ujarnya.

Laporan Wartawan Tribun Manado, Deffriatno Neke

»»  READMORE...

Sabtu, 22 Oktober 2011

Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang "baru" enam bulan. Ada yang bilang "sudah" enam bulan.

Betapa relatifnya waktu.

Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang kerja Dirut PLN.
Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.

Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat transplan yang masih harus saya minum setiap hari.

Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri.

Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik.

Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak ke mana-mana.

Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi
atau permintaan ceramah. Semua saya hindari.

Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status saya tetap saja sebagai orang sakit.
Di samping harus terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.

Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga sambil menghirup CO2.

Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang bercucuran.

Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.

Betapa relatifnya jarak.

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian juga beberapa relasi PLN lainnya.

Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus
bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.

Betapa relatifnya uang.

Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan.

Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya.
Yang tidak ada pada mereka adalah muara.

Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara.
Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh.

Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.

Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.

Betapa relatifnya tempat. 

Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.

Betapa relatifnya jiwa.

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi" direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak pernah membaca surat masuk.

Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka, untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang
lebih pas menjawabnya?

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi.
Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan?
Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang saja.
"Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?
Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik petunjuk"?

Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu, doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman - melebihi saya? Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya
kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta petunjuk".

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari universitas-universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah pengecualian.
Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama. Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.

Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya.

Betapa relatifnya sebuah kekuasaan.

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini? Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir diseluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama,
mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14, sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20).

Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama
DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang menaikkan atau menurunkan TDL?

Betapa relatifnya kepuasan.

(Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh karyawannya. Surat itu diberi nama CEO's Note. Tujuannya, seluruh karyawan PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan
keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO's Note terbit, banyak tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini adalah CEO's Note edisi ke-6 bulan Juli 2010).

Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi teladan bagi bawahan dan demokratis ???

by: Didik I. Kuntadi
»»  READMORE...